Puisi cinta Chairil Anwar

17 Okt

Mengenai puisi-puisi cinta Chairil Anwar yang berlatar cinta yang menggebu-gebu dan cinta yang diselipi kekecewaan. Mungkin anda juga berpikir: Adakah Chairil Anwar mempunyai perasaan romantisme? Ternyata, puisi Chairil pun ada aroma romantismenya, karena dia penyair!. Tapi memang bukan merupakn full version of lirisme seperti yang biasa kita temukan pada puisi romantis SDD.

Dibawah ini ada dua taste lagi dari puisi Cinta Chairil Anwar, pertama adalah romantisme dan kedua adalah kesedihan cintanya. Tapi di setiap bagian itu pembaca/penyimak akan tetap mengenali ciri khas Chairil Anwar… herois dan liar.

Puisi Cinta Chairil Anwar Yang Mesra

TAMAN

Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah

Taman kembangnya tak berpuluh warna

Padang rumputnya tak berbanding permadani

halus lembut dipijak kaki.

Bagi kita bukan halangan.

Karena

dalam taman punya berdua

Kau kembang, aku kumbang

aku kumbang, kau kembang.

Kecil, penuh surya taman kita

tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

Maret, 1943

Romantis sekali bukan terdengarnya? Seperti yang biasa terlukis pada mimpi-mimpi pasangan muda yang baru saja menikah. Memiliki dunia berdua, membangun sebuah rumah mungil, keluarga yang sederhana tetapi ada kedekatan jarak satu sama lain…. Hmm, Ahmad Albar bilang: Lebih baik di sini rumah kita sendiri…

LAGU BIASA

Di teras rumah makan kami kini berhadapan
Baru berkenalan. Cuma berpandangan

Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam

Masih saja berpandangan
Dalam lakon pertama

Orkes meningkah dengan “Carmen” pula.

Ia mengerling. Ia ketawa
Dan rumput kering terus menyala

Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi

Darahku terhenti berlari

Ketika orkes memulai “Ave Maria”
Kuseret ia ke sana…

Maret 1943

Terlihat bukan, betapa jiwa Chairil pun bergolak pada pandangan pertama. Dari mata turun ke hati, lalu “klik”. Dan bagian selanjutnya; Ia mengerling // Ia ketawa // dan rumput kering terus menyala… Chairil, sungguh pintar di sini, biasanya seseorang yang melihat gadis manis dan ia jatuh hati akan menghadapi dua kemungkinan, hatinya bergetar atau nafsunya (baca: anunya) menggelegak, ia malah memakai metafora “dan rumput kering terus menyala”. Rumput apa rumput, Bang??!!

Sekarang ada puisi yang lebih aneh lagi, Chairil sendiri memberikan judul “Sajak Putih” seolah dia sendiri tahu bahwa sajak-sajaknya berwarna warni, dan dia juga menjudge sendiri bahwa sajak yang satu ini sebuah sajak yang berwarna putih…

SAJAK PUTIH

buat tunanganku Mirat

bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja

di hitam matamu kembang mawar dan melati

harum rambutmu mengalun bergelut senda

sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa

dan dalam dadaku memerdu lagu

menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah

selama kau darah mengalir dari luka

antara kita Mati datang tidak membelah…

Buat miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di

alam ini!

Kucuplah aku terus, kucuplah

Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…

18 Januari 1944

So sweet….! Diawali oleh rayuan dan puji, ditengahi dengan janji sehidup semati yang bahkan kematian pun tak mampu memisahkan, lalu diakhiri dengan pengakuan cinta adalah untuk saling memberi dan menerima. Cinta ideal begitu tergambar di sini.

Puisi Cinta Chairil Anwar Yang Sedih
Sekarang kita beranjak pada puisi cinta Chairil Anwar yang beraroma kesedihan. Yang pertama adalah sajak tentang perpisahan. Sajak tentang perpisahan yang diakibatkan karena; “sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring”. Padahal puisi ini ditujukan pada “dia” yang telah diambilnya berdasarkan pilihan bebas Chairil, bait ini menjelaskannya; “ku pilih engkau dari yang banyak”. Tampaknya, meskipun telah mendapat pendamping yang dimauinya, sepi masih saja menggelayuti kehidupan. “Nasib adalah kesunyian masing-masing”.

PEMBERIAN TAHU

Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing-masing.

Kupilih kau dari yang banyak, tapi

sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.

Aku pernah ingin benar padamu,

Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,

Kita berpeluk cium tidak jemu,
Rasa tak sanggup kau kulepaskan.

Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,

Aku memang tidak bisa lama bersama

Ini juga kutulis di kapal, di laut tak bernama!

1946

Ada dua buah lagi puisi dari perasaan hati yang sedih, karya Chairil Anwar:

HAMPA

kepada Sri yang selalu sangsi

Sepi di luar, sepi mendesak-desak
Lurus-kaku pohonan. Tak bergerak

Sampai ke puncak

Sepi memagut

Tak suatu kuasa-berani melepaskan diri

Segala menanti. Menanti-menanti.

Sepi.

Dan ini menanti penghabisan mencekik

Memberat-mencengkung punda

Udara bertuba

Rontok-gugur segala. Setan bertampik

Ini sepi terus ada. Menanti. Menanti.

Maret 1943

SENJA DI PELABUHAN KECIL

buat Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap.

1946

Dua puisi di atas, adalah puisi tentang kesepian. Puisi tersebut ditujukan pada nama yang sama. Padahal rentang waktu kepenulisan Chairil diantara kedua puisi ini cukup lama,1943 dan 1946. Ini menandakan si Sri di sini benar-benar mampu memberikan rasa cinta padanya, sekaligus bonus perasaan sepi.
Dua puisi tersebut sebangun, namun pada puisi kedua curhat itu lebih implisit. Dia tidak banyak menggunakan kata sepi dan menanti lagi, bahkan juga metafora yang keras seperti puisi pertama: udara bertuba. Pada puisi kedua, ia hanya menggambarkan perasaan melalui lukisan tentang pelabuhan kecil di sore hari.
Beda lainnya, pada puisi pertama secara gamblang ia menulis “buat Sri yang selalu sangsi”, sedang yang kedua “buat Sri Ajatun”. Yang pertama, ada terlukis suatu tudingan. Yang kedua, lebih sebagai rasa kepasrahan. Capai menunggu?
Puisi yang kedua itu merupakan favorit saya, polanya lebih tertata rapi dan lebih liris.

Puisi Chairil Anwar memang, kaya warna. Hampir diseluruh puisnya, baik itu di dalam puisi perjuangan/herois, puisi cinta atau pun puisi tentang pandangan kegamaan, akan terlihat ada gelora di seluruh puisinya. Ada “rasa kental” di setiap puisinya, jejak kehidupannya, maklumlah…. Kan Chairil itu Penyair…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: