Konsep Berkomunikasi Dalam Islam

17 Okt

Oleh: Nur Atik Kasim

Bagaimana Seharusnya kita Berkomunikasi?

PKS Jaksel: Dalam Al Qur’an dengan sangat mudah Anda akan menemukan contoh kongkrit bagaimana Allah selalu berkomunikasi dengan hambaNya melalui wahyu. Untuk menghindari kesalahan dalam menerima pesan melalui ayat-ayat tersebut, Allah juga memberikan kebebasan kepada Rasulullah untuk meredaksi wahyu-Nya melalui matan hadits. Baik hadits itu bersifat Qouliyah (perkataan), Fi’iliyah (perbuatan), Taqrir (persetujuan) Rasul, kemudian ditambah lagi dengan lahirnya para ahli tafsir sehingga melalui tangan mereka terkumpul sekian banyak buku-buku tafsir.

Selain itu, kita mendapati Rasulullah SAW dalam berkomunikasi dengan keluarga, sahabat dan umatnya. Komunikasi beliau sudah terkumpul dalam ratusan ribu hadits yang menjadi penguat, penjelas Al Qur’an sebagai petunjuk bagi kehidupan umat manusia.

Komunikasi dalam Islam dinilai penting, karena adanya kewajiban berda’wah kepada setiap orang-orang yang beriman sehingga nilai-nilai Al Qur’an dan haditsnya harus selalu dikomunikasikan kepada orang lain, khususnya keluarga guna menghindari siksaan api neraka.

Komunikasi sangat berpengaruh terhadap kelanjutan hidup manusia, baik manusia sebagai hamba, anggota masyarakat, anggota keluarga dan manusia sebagai satu kesatuan yang universal. Seluruh kehidupan manusia tidak bisa lepas dari komunikasi. Dan komunikasi juga sangat berpengaruh terhadap kualitas berhubungan dengan sesama.

Bagaimana Etika Berkomunikasi Dalan Islam?

Dalam Islam komunikasi harus dilandasi dengan cinta dan kasih sayang. Tidak ada alasan bagi anda untuk keluar dari etika-etika yang telah digaris bawahi oleh risalah Islam.

Hal tersebut telah dicontohkan langsung oleh Allah yang Maha Penyayang dalam Al Qur’an. Karenanya kita akan mendapati bahwa setiap surah dalam Al Qur’an selalu diawali dengan Bismillahi Rahmaani Rahiim (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang).

Komunikasi dalam Islam sangat erat kaitannya dengan misi Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Misi itulah yang mendorong Rasulullah untuk menyampaikan da’wah dengan penuh kasih sayang.

Allah berfirman, “Dan tidaklah kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS. 21 Ayat 207).

Ada beberapa etika yang harus anda perhatikan dalam berkomunikasi, yaitu:

1.Panggilah Dengan Panggilan Menyenangkan

Dalam berkomunikasi, Islam sangat menekankan untuk memulai komunikasi dengan panggilan yang menyenangkan sekalipun pesan yang disampaikan dalam komunikasi merupakan teguran dan peringatan.

Allah telah mencontohkan hal tersebut ketika sedang menegur kesalahan Rasulullah. Allah tetap memanggil beliau dengan sebutan “wahai Nabi”.

Allah berfirman; “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. 66 Ayat 1)

2.Tidak emosional

Berhati-hatilah memulai percakapan atau komunikasi dalam suasana yang emosional, karena suasana hati yang tidak tenang menimbulkan ketidakberaturan dalam berkata-kata. Tarik nafas anda kemudian hembuskan dengan pikiran tenang. Bayangkan kata-kata yang anda ucapkan guna menghindari kata-kata yang tidak beraturan dan emosional. Karena kata-kata yang diucapkan dalam kondisi emosi sering kali membuat hubungan menjadi kurang bagus, bahkan retak.

Paling parah adalah, Anda mengeluarkan kata-kata yang akhirnya membuat Anda harus meminta maaf pada lawan bicara anda. Tenanglah sedikit, pikirkan apa niat dan tujuan anda berkomunikasi. Jangan sampai keteledoran Anda yang tidak pandai mengatur pembicaraan membuat hubungan Anda tidak harmonis dengan orang-orang yang Anda sayangi.

Jika dalam berkomunikasi tidak mengandung unsur emosional maka komunikasi tersebut dapat disampaikan dengan kata yang teratur sehingga terhindar dari kesalahan-kasalahan dalam berkomunikasi dan dapat disampaikan dengan jelas, benar, serta teratur.

Allah berfirman, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka. Mohonkanlah ampun bagi mereka. Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (QS. Ali Imron ayat 159).

3.Membuka Dialog Dalam Berkomunikasi

Memulai komunikasi dengan memberikan pemahaman pesan dengan cara membuka dialog dan bersabar mendengarkan pesan dari sumbernya. Selanjutnya jadilah pendengar yang baik bagi lawan bicara Anda. Karena kebanyakan dari kita lebih betah berbicara dari pada mendengarkan pembicaraan. Lebih pandai berbicara dari pada pandai mendengar. Padahal kebanyakan dari kita adalah sangat suka didengar. Terlebih apa yang kita ucapkan didengar dengan antusias. Dapat di pastikan Anda akan merasa dihargai meskipun lawan Anda tidak memberikan solusi yang memuaskan terhadap permasalahan yang Anda hadapi.

Oleh karenanya, bukalah komunikasi dengan dialog yang ringan serta gunakan bahasa yang mudah dimengerti dan difahami. Hindari penggunaan kata-kata yang tidak jelas.

4.Komunikasi Dengan Berlapang Dada

Untuk berlapang dada, Anda perlu mempersiapkan hati yang penuh kesiapan untuk mendengarkan lawan bicara anda. Tujukkan wajah antusias Anda. Sekali-kali Anda boleh tersenyum sambil menatap matanya dengan lembut. Pertama memang susah, apalagi terhadap mereka yang terlalu banyak bicara. Tapi dengan usaha pelan-pelan, insya Allah Anda berhasil.

5.Menyikapinya Penuh Kedewasaan

Bukalah hati kita selebar-lebarnya dalam berkomunikasi agar Anda dapat berlapang dada, sehingga menimbulkan pembicaraan yang bersumber dari hati yang bersih dan ilmu yang benar. Selain itu akan memunculkan jiwa pemaaf dan berdo’a kepada Allah(QS.3:159).

Allah telah memberikan contoh untuk terlebih dulu memaafkan kesalahan Rasulullah sebelum menyampaikan tegurannya.

Allah berfirman, “Semoga Allah mema’afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka untuk tidak pergi berperang, sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keudzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?”

Membuka hati selebar-lebarnya juga sangat penting dalam berkomunikasi khususnya terhadap mereka yang pendidikannya jauh di bawah kita. Misalnya terhadap pembantu rumah tangga yang tidak sempat menamatkan sekolah dasarnya. Tentu kita harus selalu berusaha mengerti, jika mereka sering tidak nyambung dengan kita.

6.Berkomunikasi Dengan Pesan yang Efektif Dan Efisien

Memberikan pesan secara sederhana agar pesan dapat berlaku efektif dan efisien sangat penting dalam membangun komunikasi. Itulah dasar penting bagi Anda, agar sedapat mungkin menyampaikan pesan yang dapat sesuai dengan kemampuan penerima pesan. Rasulullah bersabda: “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kemampuan akalnya.”

Ketika Rasulullah ingin mengetahui berapa jumlah orang kafir quraisy yang terlibat dalam perang Badar. Beliau mengetahui, bahwa seorang anak penggembala tidak mungkin tahu berapa jumlah tentara mereka. Maka Rasulullah bertanya dengan bahasa komunikasi yang efektif dan efisien, “Berapa ekor jumlah unta yang disembelih setiap hari oleh orang-orang Quraisy?. Anak penggembala menjawab, antara 9 dan 10 ekor. Beliau berkomentar dan menyimpulkan: Jumlah mereka (Tentara Kafir Quraish) antara 900 dan 1000 orang.”

Bagaimana Prinsip Berkomunikasi Dalam Al Qur’an?

Pertama, Qaulan Tsaqila (komunikasi yang berpengaruh)

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat” (QS 73: 5).

Prinsip ini menunjukkan bahwa setiap komunikasi yang kita sampaikan hendaknya kita persiapkan dengan sungguh-sungguh sehingga bisa memberikan pengaruh pada pihak yang kita ajak bicara.

Kedua, Qaulan Sadida (komunikasi yang tegas)

“…Dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS 4: 9)

Komunikasi yang tegas adalah komunikasi yang tidak mencla-mencle, penuh keraguan, ketidakpastian dan ketidak-percaya-dirian.

Dengan komunikasi yang tegas, orang lain akan memahami bagaimana sikap kita, apa posisi kita dan dengannya tidak akan menimbulkan kesalahpahaman maupun salah mengerti.

Ketiga, Qaulan Balighoh (komunikasi yang penuh makna)

“Dan katakan kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka” (QS 4: 63)

Prinsip ini mengarahkan kita untuk bisa menyampaikan setiap pemikiran, perasaan dan nasehat dengan menggunakan pilihan kata, gaya bahasa, yang penuh makna sehingga membekas dalam diri orang yang kita ajak bicara.

Keempat, Qaulan Layyina (komunikasi dengan lemah-lembut)

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (QS 20: 44)

Kelemah lembutan adalah satu faktor penting dalam berdakwah, bersosialisasi, bergaul, sehingga orang akan merasa tentram dan rela menerima pembicaraan kita.

Kelima, Qaulan Ma’rufa (komunikasi yang penuh nilai-nilai kebaikan)

“…kecuali mengatakan kepada mereka perkataan yang ma’ruf…” (QS 2: 235). “Ucapkanlah kepada mereka dengan perkataan yang baik” (QS 4: 5)

Komunikasi yang penuh dengan nilai kebaikan akan menghindarkan kita dari berkata dusta, keji atau menimbulkan kemudharatan pada pihak-pihak yang kita ajak bicara. Dan sebaliknya, kita bisa memberikan banyak manfaat kepada orang lain.

Lalu bagaimana dengan prinsip berkomunikasi dalam keluarga Islam?

Salah satu kunci pembentukan keluarga sakinah adalah komunikasi, maka suami istri tidak dapat menciptakan keluarga sakinah tanpa ada komunikasi. Tanpa komunikasi keberlangsungan keluarga sakinah sulit dipertahankan, sebab mereka hanya akan menjalani kehidupan berumah tangga dalam suasana ketertutupan, kesunyian, prasangka yang buruk, kesalahpahaman, bahkan boleh jadi saling bermusuhan.

Setiap keluarga punya bahasa untuk alat berkumunikasi.

Jika dengan bahasa lisan tidak dapat dimengerti atau sulit diungkapkan maka mereka akan menggunakan bahasa tubuh bahkan terkadang menggunakan kedua bahasa tersebut sekaligus.

Keluarga merupakan surga duniawi bagi suami istri. Ia sekaligus sebagai sekolah pertama dalam melahirkan generasi pemimpin yang sholeh dan sholehah. Pada saat yang sama keluarga juga sebagai basis da’wah dalam terciptanya masyarakat yang Islami. Untuk mewujudkan keluarga sebagai syurga, sekolah dan pondasi masyarakat Islami diperlukan adanya komunikasi di antara seluruh anggota keluarga.

Ada beberapa hal yang menjadi dasar bagi pentingnya berkomunikasi dalam keluarga dan saya akan meuraikan sebagai berikut:

– Mengungkapkan kegembiraan dan perasaan KASIH lainnya.

Rasulullah telah memerintahkan kepada orang-orang yang bersaudara karena Islam (berukhuwah Islamiyah) untuk menyampaikan rasa cintanya. Maka sepatutnya rasa cinta ini selalu diungkapkan oleh suami istri dan anak-anaknya.

– Menjadi sarana peningkatan harmonisasi keluarga.

Keharmonisan keluarga membutuhkan komunikasi,sehingga keluarga menjadi tenpat untuk saling berbagi kebahagiaan dan memecahkan masalah dan menyempurnakan kekuarangan yang ada.Sebab suami istri berfungsi sebagai pakaian bagi pasangannya.

Allah berfirman:“Mereka (istri-istri) adalah pakaian bagi kalian (suami), dan kalian adalah pakaian bagi mereka.” (QS 2: 187)

– Sebagai sarana bermusyawarah.

Setiap keluarga membutuhkan musyawarah dalam menyelesaikan berbagai urusan. Sebab hasil musyawarah akan lebih sempurna dibandingkan hasil pemikiran seseorang dan dapat dipertanggungjawabkan oleh seluruh anggota keluarga sehingga rasa kebersamaan akan menjadi milik bagi seluruh anggota keluarga.

Allah berfirman: “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam suatu urusan” (QS 3:159)

– Sebagai sarana pemenuhan hak setiap anggota keluarga.

Setiap anggota keluarga mempunyai hak yang harus terpenuhi. Untuk memenuhi hak tersebut memerlukan komunikasi. Dengan berkomunikasi maka mereka akan mendapatkan hak-haknya sesuai dengan kebutuhannya.

– Sebagai sarana pendidikan anak.

Pendidikan anak memerlukan kasih sayang dan perhatian orang tua sebagaimana pendidikan anak juga memerlukan pujian, nasehat, teguran, peringatan, dialog dan bercerita. Kesemuanya itu memerlukan komunikasi yang baik dan efektif.

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS 6: 66).

Abnu Abbas menafsirkan ayat tersebut dengan, “Didiklah dan arahkanlah keluargamu untuk taat kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya.”

– Sebagai sarana da’wah

Keluarga merupakan medan da’wah pertama sebelum berda’wah ditengah masyarakat. Kesuksesan da’wah dalam keluarga menjadi langkah pertama menuju kesuksesan da’wah di masyarakat. Bahkan keberhasilan da’wah di keluarga menjadi tolak ukur kesuksesan da’wah di masyarakat. Sedangkan kesuksesan da’wah itu bergantung pada kesuksesan komunikasi dalam keluarga dan masyarakat.

Allah berfirman:“Serulah pada jalan Robbmu dengan hikmah dan nasehat yang baik. Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS 16: 125).

– Meneladani komunikasi dalam keluarga Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW merupakan satu-satunya orang yang mendapatkan pendidikan langsung dari Allah SWT. Beliau bersabda: “Robbku telah mendidik aku, maka sebaik-baik pendidikan adalah pendidikan yang diberikan kepadaku.”

Oleh karena itu, dalam berkomunikasi dengan keluarga harus meneladani Rasulullah SAW. Adapun komunikasi yang dilakukan oleh Rasulullah kepada keluarganya sebagai berikut

+ Bermuara pada rasa cinta dan kasih sayang

Jadikanlah komunikasi anda sebagai muara cinta dan kasih sayang yang tulus karena Allah, sebab semua pesannya merupakan rahmat bagi keluarga bahkan bagi seluruh alam.

Abu Sulaiman Bin Al Huwairi berkata, kami datang kepada Rasulullah SAW dan kami tinggal bersamanya selama dua puluh hari. Tenyata Rasulullah SAW orang yang dipenuhi oleh kasih sayang dan kelembutan kepada keluarganya sehingga kami menjadi rindu kepada keluarga kami. Kemudian beliau menanyakan keluarga yang kami tinggalkan, maka kami menceritakannya kepada beliau. Kemudian beliau bersabda: “pulanglah kepada keluargamu dan penuhilah hak-hak mereka serta didiklah mereka dan berbuat baiklah kepada mereka……”

+ Memanggil nama anggota keluarganya dengan panggilan yang menyenangkan

Seperti ketika Rasulullah memanggil Fatimah dengan sebutan “Wahai Ananda”dan memanggil Aisyah dengan sebutan “Ya Humairo’) atau Ya AaIsy (orang-orang yang hidup).

+ Berkomunikan tanpa emosi.

Berkomunikasi tanpa emosi membuat beliau dapat menyampaikan pesan sesuai dengan misinya. Sehingga beliau bisa berbicara dengan kata-kata yang berbobot, penuh makna, mengandung nilai-nilai kebaikan dengan penuh kelembutan. Sekalipun ketika beliau menegur Aisyah di saat Aisyah membuang makanan yang dikirim oleh Ummu Salamah. Beliau bersabda: “Ibumu sedang cemburu, Hai Aisyah, satu nampan yang engkau terima harus engkau antar satu nampan juga.”

Begitu juga ketika Aisyah tidur setelah sholat subuh, beliau bersabda kepadanya: “Hai Aisyah, jemputlah rizkimu dan janganlah engkau menolaknya.”

Beliau sering mengiringi bahasa lisannya dengan bahasa tubuhnya.

Disaat beliau ingin mengekspresikan rasa cintanya seperti yang diriwayatkan oleh Aisyah beberapa hadits berikut ini: Aisyah berkata: “saya biasa minum dari gelas yang sama ketika haid, lalu Nabi mengambil gelas tersebut, dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut saya lalu beliau minum kemudian saya mengambil cangkir lalu saya menghirup isinya. Kemudian beliau mengambilnya dari saya lalu beliau meletakkan mulutnya pada tempat meletakkan mulut saya. Lalu beliau pun menghirupnya. (HR.Abu Rozaq dan Sa’id Bin Mansur).

Dari Aisyah: “bahwa Rasulullah, biasa mencium istrinya setelah wudhu, kemudian beliau sholat dan tidak mengulangi wudhunya.”

Beliau menyampaikan pesan dengan kalimat yang sederhana (tidak bertele-tele).

Ketika Aisyah marah, Rasulullah bersabda kepadanya: “Hai Aisyah, berlaku lembutlah, sesungguhnya apabila Allah menghendaki kebaikan kepada sebuah keluarga maka Allah akan memberikan kelembutan kepada mereka.”

Berlapang dada

Berlapang dada dengan kelemahan yang ada dalam anggota keluarga, sehingga komunikasi dimulai dengan memaafkan kesalahan mereka terlebih dahulu. Anas berkata: “saya tidak pernah mendengar Rasulullah SAW berkata, mengapa kamu tidak melaksanakan ini, mengapa kamu tidak melaksanakan itu, mengapa kamu tidak begini dan mengapa kamu tidak begitu. Padahal dia tinggal bersama Rasulullah selama sepuluh tahun.”

Suatu hari Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat: “Ya Rasulullah, berapa kali engkau memaafkan pelayanmu dalam satu hari ?”

Beliau tidak menjawab. Tetapi setelah pertanyaan yang ketiga baru beliau menjawab: “Aku maafkan kesalahan pelayanku 70 x dalam sehari”.

Maka semua pesan dalam komunikasi beliau selalu menyenangkan untuk didengar, mudah untuk dipahami, dan bersemangat untuk direspon.

PENUTUP

Demikianlah konsep berkomuniakasi dalam Islam. Sedapat mungkin kita sebagai umat dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari kita, sehingga tujuan akhir dari kehidupan kita tidak terhalang lagi oleh akhlak yang tidak islami. Karena sebaik-sebaik kita adalah yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Hati yang penuh iman. Hati yang penuh syukur. Hati yang penuh taqwa. Dan jiwa yang penuh ketenangan dan kemuliaan dari Allah. Berharap Allah mengabulkan…semoga kita sekeluarga terhindar dari siksaan NERAKA. Keluarga besar kita…terhindar dari ancaman siksa kubur dan kita bermanfaat di dunia…jaya di akherat. (Nur Atik Kasim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: